Red Yellow Electricity Lightning

Minggu, 24 Februari 2019

Red Room

(Red Room/Ruang Merah)

Henry menghilang di Meksiko beberapa minggu yang lalu, dan Lois terus menerima banyak surat yang aneh melalui pos.

Dia mengasumsikan bahwa empat surat pertama yang diterimanya empat hari pertama dalam bulan ini merupakan kesalahan pada pemberian alamat. Namun, amplop kelima berisi kertas putih dengan sepatah kata yang menghantui pikirannya selama beberapa minggu.

“Suami,” itu adalah apa yang dia katakan.

Lois merasa darah pada nadinya membeku. 

Empat yang pertama tertulis berturut-turut, “Aku, Akan, Kembali,” dan “Kamu.” 

Yang keenam tidak menyenangkan.

Tertulis, “Hanya.”

Setelah itu, Lois menggunakan internet untuk mencari cara menghubungi pihak yang berwenang dari Meksiko, dengan sedikit keuntungan. Percakapan dirinya dengan polisi maupun percakapan perwakilannya sama saja, semua menemui jalan buntu. Setelah itu, sampai pesan yang bertuliskan, “jika kamu bisa menebak dengan benar,” Lois mulai kehilangan hal itu.

----

“Aku akan mengembalikan Suamimu hanya jika kamu bisa menebak dengan benar apa yang akan kulakukan terhadapnya,” adalah pesan singkat yang dieja dengan kliping koran. Sifat asli dari kata yang terpisah pada lembaran kertas tampaknya tidak penting, jika ini adalah pesan sepanjang waktu.

Dibalik lembar kertas terakhir -- dibaca “dia” -- terdapat alamat situs tertulis ‘http://www.analogbrowser.com’...dan hal itu menjadi satu-satunya jalan untuk dia lakukan.

Situs itu tidak menarik, serangkaian gambar dan logo, dengan sebuah tautan kecil di tengahnya. Ketika dia menekannya, ‘Analog Browser’ mulai mengunduh pada laptop-nya, bersamaan dengan dokumen terisi kata-kata.

Pada dokumen tersebut terdapat alamat situs, dengan perbedaan mencolok pada registrasi domainnya. 

Alamat situsnya sederhana; ‘you.analog’

Setelah program selesai diunduh dan dijalankan, browser -- yang mengingatkan pada Opera -- muncul pada layar dan Lois menuliskan alamat situs tadi pada mesin telusur. 

Sebuah bar ruang diskusi berwarna merah muncul di layar. Sebelum Lois dapat menulis pesan, serangkaian titik dan terdapat pesan, ‘[USERNAME] sedang mengetik….’

Dia melototkan matanya, fokus pada kotak merah kecil itu. 

Titik-titik masih bergerak bergelombang naik dan turun.

Tulisan ‘[USERNAME] sedang mengetik….’ tetap ada.

Detik terlewati.

Menit.

Ruangan luar yang berwarna putih dengan kotak merah padanya berubah warna dan menjadi kasar ketika Lois menatap tajam pada laptop-nya itu, seolah-olah “menghendaki” penculis suaminya untuk beraksi.

Dan masih, titik tersebut berlanjut bergelombang naik dan turun. 

Kini, serangkaian titik-titik tersebut tergantikan dengan kata-kata dan itu langsung terbayang dalam pikirannya. 

Lois membanting kursinya dan menatap dekat-dekat laptop-nya, mengamati kata-kata yang tertulis di layar, ‘aku akan mengembalikan suamimu hanya jika kamu bisa menebak dengan benar apa yang akan kulakukan terhadapnya.’

Mata kiri Lois berkedut tanpa sadar.

Tulisan ‘[USERNAME] sedang mengetik….’ kembali muncul di layar.

Tulisan yang muncul kemudian adalah, “dan aku tidak bisa berbohong, apakah kamu menebak bahwa aku benar atau tidak.”

Dia ingin benjawab, tetapi merasa bimbang.

Bagaimana jika dia tidak mengembalikan Henry?

Ketika Lois hendak menjawab, dia bimbang lagi.

Maka, itu berarti dia berbohong tentang….

Kenyataan situasi mulai disadarinya.

Lois tidak mengerti mengapa hal ini dapat terjadi. Dia berpikir, “jika dia berbohong, dan berkata dengan benar, maka terdapat pilihan ketiga.”

Pilihan ketiga tidak mungkin bagi Henry untuk menulis catatan itu, dan memalsukan penculikannya sendiri. Mobilnya ada di depan.

Dan ketika Lois melepas kepergian suaminya di bandara, suaminya mengatakan bahwa dia akan memanggilnya ketika pulang -- dan dia tidak melakukannya. 

Lebih jauh lagi, jika orang ini -- jika mungkin adalah Henry -- secara bersamaan berbohong dan mengatakan yang sebenarnya, maka dia tidak bisa disebut Henry sejak awal.

Hal tersebut membuatnya mendapati jawaban yang menakutkan. 

Dia benar-benar tidak ada disini, Henry benar-benar tidak ada, dan situasi ini merupakan hasil dari ingatan yang tertekan. 

Lois mengingat kembali kejadian masa lalu. Saat dia meninggalkan rumah bersama dengan Henry. Mengemudi ke bandara. Melepas kepergiannya. Menerima panggilan tentang laptop-nya yang menyala dan tidak melihatnya. Melihat Ruang Merah dalam browser. Argumen. Dan kemudian, dia menunggu panggilan ketiga yang tidak pernah datang.

Ini semua benar-benar aneh, tetapi satu hal yang menonjol dalam analisanya pada hari itu adalah Ruang Merah. Dia teringat beberapa kali berhenti untuk mendapatkan rekaman waktu kejadian, tetapi setiap kali menarik lebih jauh dan dalam menuju situs yang mengerikan.

Ketika itu sesuatu menyerangnya.

Dia tidak ingat hari apa itu.

Dia bahkan tidak tahu pada saat itu jam berapa.

Bahkan siang atau malam.

Dia membayangkan pulang ke rumah.

Dia membayangkan itu perjalanan bisnisnya, bukan dirinya. 

Dia membayangkan itu laptop-nya, bukan dirinya. 

Dia membayangkan berada di rumahnya, tetapi dia tidak berada disana.

Dia membayangkan semuanya. 

Untuk mengalihkan… dia….

Untuk mengalihkannya dari rasa sakit.

Dia tidak melihat dengan baik ke ruangan sebelum dia mati, tetapi dia tahu satu hal.

Semuanya merah.

SUMBER

42

(42)


Apartemen baruku dulunya dipakai sebagai Kapel Santeria. Sebelum aku pindah, seorang wanita tua tinggal disini dan terkenal oleh tetangga Dominika-ku, Brooklyn sebagai tabib dan pembimbing spiritual. Pria yang tinggal di lantai bawah mengatakan bahwa orang-orang akan datang mengunjunginya setiap hari, membawa burung, ayam, tikus atau kadal bersama mereka. Tetanggaku mengatakan bahwa terkadang dia melihat juga kambing dibawa. Si wanita menggunakan hewan-hewan tersebut untuk praktiknya. Aku dengan bodohnya bertanya tentang apa maksudnya dia itu. Dia menunjuk lehernya dan menggoreskannya dengan jari, serta berkata, “sesuatu yang kasar sedang terjadi, kawan.”

Ketika aku melihat apartemennya, barang-barang milik wanita itu masih berada disini. Diam-diam dilengkapi dengan banyak cetakan bunga; jenis barang yang mengingatkanmu dengan rumah nenekmu. Terdapat gambar Perawan Maria dimana-mana. Dan dibalik tirai ruang tamu, terdapat sebuah ruangan kecil dimana terletak sisa-sisa berupa altarnya. Itu tertutupi dengan gambar: gambar Tuhan Yesus, foto keluarga si wanita, tetapi juga terdapat gambar pria dalam gelap dengan mata hitam dan jumlah jari yang tidak biasa pada tangannya. Semua barang, sebagaimana yang dikatakan pemilik kepadaku, akan dikeluarkan ketika keluarga pemilik datang mengambilnya. Dia juga menyebutkan bahwa apartemen akan dibersihkan dan diperiksa dengan cermat sebelum orang-orang lain datang kemari.

Si wanita, diketahui kemudian, bahwa dia sedang dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya setelah mengidap gangguan syaraf. Tetanggaku kemudian mengatakan padaku bahwa wanita itu berulang kali memanjat tangga, berbisik dalam bahasa spanyol bahwa terdapat iblis dalam pikirannya. Dia telah tinggal lama di apartemen tersebut jadi dia secara  teknis menjadi miliknya oleh hukum New York. Keluarganya tidak menginginkan apartemennya, dan mengembalikannya kepada pemilik sekarang dengan sejumlah uang. Dia sangat menginginkan untuk mendapatkannya dari harga pasaran.

Kukatakan padanya bahwa aku tidak sanggup membayar tempat yang mahal. Dia bilang padaku untuk menentukan harganya. Kulakukan, dan setelah beberapa tawar-menawar, dia menyetujuinya. Masa lalu apartemen tidak menghawatirkanku. Faktanya, aku malah terhibur dengan hal tersebut - akan menjadi keren jika mengatakan kepada para tamu bahwa sofa yang sedang mereka duduki merupakan tempat dimana seorang penyihir memanggil kekuatan kegelapan untuk tujuan yang tidak diketahui. Yah, kalian tahu, sebagai pencair suasana.

Apartemen ini terletak tidak jauh dari pusat kota yang trendi dan keren. Aku mendapati diriku sering keluar, bertemu dengan banyak orang sekitar lingkungan dan merasa seperti diabaikan. Dan aku tidak perlu pergi jauh-jauh, hanya memerlukan sebulan untuk membiasakan diri dengan rutinitas “rumah sandungan.” Satu hal yang sering kulakukan untuk membuat diriku tetap terjaga dan tersadar (terutama saat mabuk) adalah dengan menghitung berbagai hal.

Aku melakukannya sampai pada titik dimana aku bisa memprediksi berapa kali aku mengetuk gagang pintu kereta api dari awal keberangkatan hingga pemberhentian, aku bisa menyentikan jejariku beberapa kali sebelum jalur di jalan berubah. Aku selalu menghitung dengan suara yang lantang, 41 langkah yang kuambil dari pintu depan hingga pintu tempat tinggalku. Dan rumah terasa seperti rumah, aku tidak merasakan hal yang tidak menyenangkan disini, tidak ada hantu atau setan yang menghawatirkanku. Satu-satunya yang selalu merasa resah dengan tempat ini adalah temanku, Jen. Dia berkata bahwa setelah dia duduk di sofa, dia merasa seperti duduk di ruangan yang dingin dan berangin. Ketika dia datang, dia selalu berakhir berada di dapur.

Dan beberapa minggu berlalu, aku mabuk dan sedang menaiki tangga namun sesuatu yang tidak beres kurasakan. Aku terserang kepanikan, sesuatu yang mendasar menguasai jantungku dan membuatnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Karena aku mabuk, aku merasa bingung dan tidak tahu apa yang salah. Tempat ini terang benderang. Pintu yang berada di belakangku terkunci. Aku melihat sekitar, siapa tahu ada seseorang di bawah, belakang atau di sampingku, tetapi tidak ada siapa-siapa disini. Aku melanjutkan untuk menaiki tangga, menghitung dengan suara keras, dan aku menyadari bahwa perhitunganku tidak berjalan dengan baik.

Ini tidak seperti hitungan benar yang biasanya kukatakan saat melangkah. Dan ternyata benar. Ketika aku sampai pada pintuku, aku menghitung 42 langkah. Entah bagaimana, aki bisa menambah selangkah. Aku tidak yakin mengapa hal tersebut membuatku sangat terganggu, tapi ternyata itu benar. Itu sangat berhasil, sampai-sampai aku pergi ke pintu depan dan melakukannya lagi. Aku menghitung tiap langkah sepanjang jalan menuju apartemenku, sadar dalam prosesnya. Ketika aku sampai pintukku, aku mendapatkan jumlah langkah yang sama: 42 langkah. Aku mengangkat bahu dan pergi tidur.

Hari berikutnya, setelah aku rasa mabuk menghilang, aku mencoba menghitung ulang. Dan aku mendapatkan 42 lagi. Aku tidak mengerti. Aku pastinya telah melewatkan satu langkah sebelumnya. Aku bahkan meminta Jen untuk menghitung langkahnya. Dia juga mendapatkan 42 langkah. Dia menertawakan betapa bingung dan terganggunya diriku terhadap hal ini. Dia membuat suara-suara menyeramkan dan berkata bahwa iblis yang menghantui apartemen ini berusaha merasuki dan membuat diriku menjadi gila, seperti wanita tua sebelumnya. Kukatakan padanya jika apartemen ini berhantu, mereka akan menodongkanku dengan senjata besar dan mengeluarkanku dari apartemen dua tempat tidur ini dan menaruh harga kurang dari seribu dolar per bulan.

Namun, selisih tersebut masih menganggu pikiranku. Aku mendapati diriku menghitung segalanya, bahkan saat aku sedang tidak mabuk. Berapa detik untuk naik lift di tempat kerja. Waktu yang berbeda yang diambil rekan kerjaku ketika mereka istirahat makan siang. Seberapa banyak ketika orang-orang yang pulang dengan mengendarai mobil mereka. Dan tentu saja, seberapa banyak langkah yang kubuat sampai ke apartemenku. Aku belum pernah mengalami OCD sebelumnya, tetapi aku mendapati diriku memperhatikan segalanya, tidak dapat membedakan apa yang penting maupun yang biasa. Ketika sesuatu yang tidak biasa terjadi, itu menyentak diriku, tetapi tidak sebanyak langkah pada tanggaku.

Namun, dalam beberapa hari ini, itu mulai membuatku sedikit mengangguku. Aku menyadari bahwa Jen benar, aku bereaksi terlalu berlebihan. Aku mungkin bukan pengamat yang paling tajam, jadi aku melupakannya. Dan aku harus melupakannya malam ini.

Karena aku baru saja menaiki tangga menuju apartemenku, dan setelah aku sampai pada pintu, aku merasa kedinginan. Karena aku tidak mendapatkan 42 langkah kali ini.

Aku mendapatkan 44 langkah.

SUMBER

Virus

(Virus)


Aku mengingat kejadian itu seolah hal tersebut terjadi kemarin.

Hari itu merupakan hari yang membosankan dimana tidak ada yang kulakukan, jadi aku memutuskan untuk menonton beberapa acara. Aku telah berhenti dari pekerjaanku dan menghentikan langganan pada Netflix, jadi aku menggunakan IceFilms, situs torrent favoritku. 

Setelah memutuskan apa yang akan kutonton, aku dengan senang hati mengunduh dan memutarnya. Setelah sepuluh menit, layarku tiba-tiba rusak dan berhenti bergerak. “Hebat sekali,” gumamku, mencoba menutup jendela aplikasi dan membukanya lagi. Tetapi berhenti lagi di tempat yang sama. Menjengkelkan, aku memutuskan untuk pergi tidur.

Kemudian aku menyadari bahwa itu virus mulai menginfeksi beberapa aplikasi dan berkas video. Lama-lama menjengkelkan, jadi aku mencoba untuk menghapus berkas film untuk menyingkirkan virus. Itu bekerja untuk beberapa jam sampai notifikasi muncul pada video. Itu merupakan teks campur aduk, Tertulis:

Puy'ereorffatraeselsiopnt. Ouylevifileikleyyobdveerbtuikelethm, aerdomoedotdie. Ielfsiointpelss. Jstuivegpu.

Apa maksudnya? Aku menjadi semakin muram, dimana aku menarik diri dari pertunjukan. Aku pergi ke komputerku dan aku mendapatkan pesan. Itu merupakan video, jadi aku memutarnya. 

Bagaimana bisa menjadi seburuk ini?

Ini merupakan video tua tentang gadis muda dengan rambut hitam dan mengenakan gaun, bermain dengan tali. Dia tersenyum dan merasa senang, ketika tiba-tiba megerutkan kening dan suara mulai keluar. Dia dengan sedih mengikatkan lehernya dengan tali, kupikir mengapa seorang mengirimkan video ini kepadaku. Ketika dia selesai, dia tersenyum, menendang kursi, dan jatuh, membuat suara yang keras ketika tali menjerat lehernya. Tujuh menit terakhir adalah senyumnya sebagai mayat tak bernyawa yang tergantung dan dijerat oleh tali. 

Aku menemukan suara lemah ketika hal tersebut terjadi. Itu merupakan suara gadis tersebut, mungkin satu-satunya yang ada dalam video, mengatakan: 

Usahamu adalah sia-sia. Kamu menjalani hidup, seperti kebanyakan orang, tetapi pada akhirnya ditakdirkan untuk mati. Menyerah saja.

Kemudian aku menemukan bahwa itu kata-kata yang diterjemahkan dari tulisan acak tadi.

Aku terduduk, merenungkan kalimat itu, menjadi depresi karena kebenarannya. Tidak peduli seberapa suksesnya dirimu, tidak peduli seberapa kaya dirimu, pada akhirnya kamu akan mati juga. Tidak ada yang akan peduli. Kamu hanyalah mayat bagi mereka.

Mayat tak bernyawa yang tidak berguna.

SUMBER

Minggu, 17 Februari 2019

The Attic

(The Attic/Loteng)


Loteng-Creepypasta-Indonesia
Terdapat seorang pria tua yang tinggal di sebuah rumah tua dalam hutan. Dia tinggal seorang diri dan jarang-jarang untuk pergi ke kota. Dia menghabiskan sepanjang waktunya dalam hutan, berburu untuk makan dan saat gelap menjelang, dia akan pulang dan memasak hasil buruannya. 

Suatu malam yang gelap, baru saja pria tua tersebut menyelesaikan makannya saat itu juga dia mendengar suara aneh. Terdengar seperti sesuatu sedang bergerak di loteng. 

Dia mengambil senapannya dan mengisinya, mencoba untuk tidak membuat suara sedikitpun. Kemudian, dia melepas sepatu beserta kaos kakinya dan berjalan perlahan menuju loteng tanpa membuat suara.

Dengan perlahan, pria tua tersebut menaiki anak tangga yang berderit, hingga dia sampai pada pintu loteng. Untuk sesaat, dia berdiri di luar, mencoba untuk menguping ke dalam, namun tidak mendengar apapun. 

Kemudian, dia membuka pintu tiba-tiba, bergegas masuk dan berteriak histeris…

“AAAHHHHHH!”

Mengapa dia berteriak?

Kamu juga akan berteriak jika kamu menginjak paku dengan kaki telanjang.

Sabtu, 16 Februari 2019

4th Floor

(4th Floor/Lantai Keempat)

Pada kompleks apartemen dimana aku tinggal, terdapat cerita mengenai seorang gadis yang tinggal di salah satu bangunan. Dia tinggal di lantai tujuh dan biasaya selalu pulang terlambat, karena dia sedang mengerjakan tesis miliknya dan sekolahnya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Cerita dimulai, setiap waktu dia selalu memakai lift. Namun, lift tersebut selalu berhenti bergerak beberapa saat di lantai keempat. Pintu gesernya tidak terbuka atau ada sesuatu, tetapi dia merasakan ada tekanan atau semacamnya, seperti terdapat seseorang yang masuk dan bersamanya dalam lift. 

Apa kamu tahu bagaimana rasanya jika seseorang berdiri di sampingmu dan menatapmu, tetapi kamu tidak bisa melihatnya? Yah, ini terjadi padanya setiap kali menaiki lift. Faktanya, hal ini menjadi sangat buruk pada suatu malam, dia berkata kepada Ibunya untuk menunggu di lobi hingga dia pulang supaya mereka bisa naik ke lantai atas bersama. Ibunya, tentu saja, setuju.

Gadis tersebut pulang lebih malam dari biasanya. katakan saja, pukul 03.00 pagi. Beruntung, Ibunya masih berada di lobi, menunggunya seperti yang dijanjikan. Mereka memasuki lift bersama-sama, dan ketika lift berhenti di lantai keempat, si gadis memandang Ibunya sambil berkata, “lihat? Ini selalu terjadi!”

Wanita tua tersebut, dalam upaya untuk menghibur putrinya, melingkari tangannya pada bahu putrinya dan membungkuk sedikit, sebelum membisikan sebuah kalimat. “Apakah kamu berpikir aku benar-benar terlihat seperti Ibumu?”

Hari berikutnya, mereka menemukan gadis yang sedang terduduk dalam lift, sendiri. Dia telah mati. Tidak ada bekas kekerasan pada tubuhnya, dan pada wajahnya, tampak seperti ketakutan.

Selasa, 12 Februari 2019

The Red Spot

Bintik-Merah-Dunia-Cerita-0412
Ketika Ruth sedang tertidur, seekor laba-laba merangkak di atas wajahnya, dan diam disana selama beberapa menit, kemudian pergi.

Paginya, dia bertanya pada Ibunya, “bintik merah apa yang ada di pipiku ini?”

“Terlihat seperti gigitan laba-laba.” Kata Ibunya, “bintik itu akan sembuh dengan sendirinya. Cukup jangan garuk saja.”

Kemudian, bintik tersebut berubah menjadi bisul merah. “Lihat itu sekarang?” Kata Ruth, “bintik ini semakin membesar.”

“Kadang itu terjadi.” Kata Ibunya, “itu adalah puncaknya.”

Dalam beberapa hari, bisul tersebut semakin membesar. “Lihatlah itu sekarang.” Kata Ruth, “menyakitkan dan jelek.”

“Yah, kita perlu memeriksakannya ke dokter, mungkin infeksi.” Kata Ibunya. Tetapi, dokter tidak akan datang memeriksanya hingga besok.

Malamnya, Ruth ingin mandi dengan santai. Saat dia membasuh tubuhnya, bisulnya pecah. Menumpahkan keluar segerombolan laba-laba yang berasal dari telur yang ditanam induk laba-laba di pipinya.


Senin, 11 Februari 2019

There's Something Under My Bed

(There's Something Under My Bed/Terdapat Sesuatu di Bawah Tempat tidurku)


Anthony bergabung dalam percakapan

Joel bergabung dalam percakapan

Joel sedang mengetik...

Joel: Halo, disini dengan Joel, dari CPCU. Ada masalah apa?

Anthony sedang mengetik...

Anthony: Terdapat sesuatu di bawah tempat tidurku…. Hal tersebut membuatku was-was.

Joel sedang mengetik...

Joel: Apa yang ada di bawah tempat tidurmu?

Anthony sedang mengetik...

Anthony: Aku tidak tahu. Aku tidak tahu... Aku mengecek di bawah sana dan tidak mendapati apapun disana. 

Joel sedang mengetik...

Joel: Sejak kapan sampai masalah ini muncul?

Anthony sedang mengetik...

Anthony: Oh, Sekitar satu atau dua bulan.

Joel sedang mengetik...

Joel: Apa yang terjadi di bawah tempat tidurmu?

Anthony sedang mengetik...

Anthony: Yah, aku mendengar suara aneh semacam cakaran atau erangan. 

Joel sedang mengetik...

Joel: Erangan?

Anthony sedang mengetik...

Anthony: Ya, erangan.

Joel sedang mengetik...

Joel: Apa kamu memikirkan jika itu semacam hewan pengerat?

Anthony sedang mengetik...

Anthony: ....

Joel sedang mengetik...

joel: Halo?

Joel sedang mengetik...

Joel: Apakah kamu masih disana?

Anthony sedang mengetik

Anthony: Ya, maafkan aku.

Anthony sedang mengetik...

Anthony: Aku baru saja sedang berbicara dengan putriku. Dia mengatakan padaku bahwa terdapat monster di bawah tempat tidurnya. 

Joel sedang mengetik...

Joel: Maaf, tapi itu tidak terdengar masuk akal!

Joel sedang mengetik...

Joel: Jadi, suaranya TIDAK berasal dari ranjangmu? 

Anthony sedang mengetik...

Anthony:....

Anthony sedang mengetik...

Anthony:...Tapi, suaranya samar-samar mengetuk bawah ranjangku. 

Anthony sedang mengetik...

Anthony: Tunggu...

Joel sedang mengetik...

Joel: Tunggu apa?

Anthony saat ini sedang offline...

Joel sedang mengetik...

Joel: Halo?

Joel sedang mengetik...

Joel: Siapapun ada disana? 

Joel sedang mengetik...

Joel: Siapapun?

Joel meninggalkan percakapan...

Dark Angel

(Dark Angel/Malaikat Kegelapan)



“Sayangku.”

“Apa yang telah kuperbuat?”
Dark-Angel-Creepypasta-Indonesia-O413

Awalnya, ada seorang gadis muda yang cantik. Dia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat. Kuingat rambut emas cantiknya, matanya yang seperti kristal berwarna biru dan senyumnya yang takjub untuk dilihat. Saat itulah aku jatuh cinta pada makhluk itu. Aku ingin bersamanya. Meskipun sampai melawan surga, aku ingin bersamanya. 

Saat pertama kali bertemu, seperti keajaiban. Setiap malam, kami berlari ke hutan untuk menyendiri dan saling berbagi hasrat pada sesama. Tetapi, apa bayarannya?

Suatu pagi selalu datang, aku menampakan wujud asliku padanya dan matanya berbinar-binar. Dia ingin aku membawanya terbang, dan aku melakukannya. Kugendong dia, mengepakan sayapku, dan terbang di langit.

Dia terpesona dengan indahnya pemandangan yang dilihatnya, jauh di langit. Lalu, dia memberikan ciuman di pipiku. Aku sangat senang sampai sesuatu berubah dari dari baik menjadi buruk. 

Aku berhenti dan melihat sayapku. Kulihat sayapku berubah dari putih menjadi hitam, dan terbakar, berubah menjadi bentuk iblis. Aku merasa kegelapan menembus nadiku, dan semuanya berubah menjadi hitam.

Ketika aku terbangun, aku mendapati diriku di atas tanah yang berlumuran darah. Aku segera bangkit dan mendapati cintaku telah hancur berkeping-keping (secara denotasi).

Oh, apa yang telah kuperbuat?!

Cintaku! Cintaku! Permata cantik-ku… hilang selamanya dalam kepekatan hatiku!

Aku perlahan memeluk apa yang tersisa dari cintaku dan menangisinya. 

Ini adalah hukumanku… Jika saja aku tidak mencintainya atau tidak melawan surga, cintaku akan terus hidup. Perbuatanku sungguh bodoh.
Kini, aku tidak pernah mencintai, karena kutukan yang kugenggam…. Selamanya, sebagai Malaikat Kegelapan.

Sabtu, 09 Februari 2019

The Girl in The Photograph

(Gadis dalam Foto)


The-girl-in-the-photograph-creepypasta-indonesiaSuatu hari di sekolah, seorang laki-laki bernama Tom sedang duduk di kelas dan mengerjakan matematika. Saat itu, enam menit kemudian jam sekolah akan berakhir. Saat dia sedang mengerjakan PR-nya, sesuatu menarik perhatiannya. 

Mejanya berada dekat jendela, dan dia melihat pemandangan rerumputan di luar. Tampak terdapat gambar disana. Ketika jam sekolah telah selesai, dia berlari ke titik dimana dia tadi melihat. Dia berlari sangat cepat sehingga tidak ada siapapun yang bisa mengambilnya duluan.

Dia mengambil gambar tersebut dan tersenyum. Itu adalah gambar dari beberapa perempuan tercantik yang pernah dia lihat. Gadis tersebut memakai gaun dengan celana ketat dan sepatu merah, dan tangannya membentuk seperti lambang perdamaian.

Gadis tersebut sangat cantik jadi dia ingin menemuinya, jadi dia berlari ke seluruh penjuru dan menanyakan ke beberapa orang yang mungkin saja tahu keberadaan gadis tersebut. Tetapi, semua orang mengatakan “tidak.” Dia sangat terpukul.

Ketika dia sampai rumah, dia bertanya kepada kakak perempuannya, siapa tahu kakaknya mengetahuinya, tetapi sayangnya dia juga mengatakan “tidak.” Hari semakin malam, jadi Tom menaiki tangga, menaruh gambar tersebut di meja samping ranjangnya dan kemudian tidur.

Saat tengah malam Tom terbangun karena ketukan dari jendelanya. Terdengar seperti yang mengetuk menggunakan kuku. Dia menjadi takut. Setelah ketukan dia mendengar suara tawa. Dia melihat bayangan dekat jendelanya, jadi dia turun dari ranjangnya, berjalan menuju jendelanya, membuka jendela dan mengikuti suara tawa. Saat dia mendekati suara itu, suaranya menghilang. 

Hari berikutnya, lagi, dia bertanya mengenai gadis dalam gambar jika mereka tahu atau tidak. Semua orang mengatakan, “maaf, tidak.” Ketika ibunya pulang, bahkan dia menanyakannya jika ibunya tahu atau tidak tentang gadis dalam gambar tersebut. Ibunya mengatakan “tidak.” Kemudian dia pergi ke kamarnya, menaruh gambar tersebut di mejanya dan tidur terlelap.

Sekali lagi, dia terbangun karena suara ketukan. Dia mengambil gambar gadis tersebut dan mengikuti suara tawa tersebut. Ketika dia berjalan menyeberangi jalan, ketika itu dia tiba-tiba ditabrak mobil. Dia mati dengan gambar gadis tersebut di tangannya. 

Supir mobil tersebut keluar dari mobilnya dan mencoba menolongnya, tetapi sudah sangat terlambat. Lalu, supir tersebut melihat sebuah gambar dan mengambilnya. 

Dia melihat seorang gadis imut mengangkat ketiga jarinya. 

Aka Manto

(Jubah Merah)


Introduksi Tentang Aka Manto


Aka-Manto-Creepypasta-0413-IndonesiaSiapakah Aka Manto? Selama penelusuranku di beberapa situs-situs, mulai dari Wikiped hingga beberapa situs mancanegara, muncul simpulan tentang Aka Manto ini. Aka Manto(赤マント), dalam translasi inggris disebut Red Cape yang mana jika kita terjemahkan ke Bahasa Indonesia, menjadi Jubah Merah, merupakah salah satu dari sekian banyak supranatural urban legend yang berasal dari negara Sakura, Jepang. Diceritakan bahwa terdapat roh jahat yang menghantui toilet pada sekolah. Diceritakan pada salah satu versi, jika seseorang sedang menggunakan toilet sekolah(terutama jika kamar toilet tersebut terletak paling ujung), muncul suara entah darimana yang menanyakan, “ingin tisu berwarna merah atau biru?” Jika yang dipilih adalah tisu berwarna merah, maka kamu akan dicincang, dipotong atau apapun yang mengakibatkan baju yang kamu kenakan berwarna merah seperti Aka Manto. Jika memilih tisu berwarna biru, maka kamu akan dicekik hingga kulitmu berubah menjadi biru seperti permintaanmu. Jika kamu memilih warna lain selain kedua itu, kamu akan ditarik ke neraka. Pilihan satu-satunya agar tidak mengalami kematian atau jatuh ke neraka adalah dengan tidak memilih tisu warna apapun. 

Berikut Adalah Salah Satu Cerita Aka Manto


Di sebuah sekolah di Tokyo, Jepang, dirumorkan bahwa terdapat hantu, bernama Aka Manto, yang menghantui toilet perempuan. Setiap anak-anak di sekolah tersebut mengetahui Aka Manto, jadi mereka selalu menghindari toilet tua dekat ruang olahraga. Suatu hari, seorang gadis muda sangat membutuhkan untuk menggunakan toilet. Karena jarak toilet yang terdekat adalah toilet tua tersebut, dia menggunakan toilet tersebut dan melihat bahwa tidak ada seorangpun yang memakainya. Tanpa ragu, dia memilih pintu toilet keempat dan menyelesaikan urusannya karena tempat tersebut, dia lihat yang paling bersih. Ketika gadis tersebut ingin mengambil tisu, dia tidak menemukan ada tisu menggantung pada tempatnya. Kemudian dia mendengar suara Aka Manto dari luar, di balik pintu tempatnya berada.

“Kamu menginginkan tisu merah atau tisu biru?” Ucapnya.

“Tisu merah.” Balas gadis tersebut. Aka Manto kemudian mendobrak pintu toilet dan menikam gadis tersebut. Dia tidak berhenti sampai tiap inci dari baju gadis tersebut menjadi merah.

Beberapa bulan kemudian, terdapat gadis muda lain yang juga sangat membutuhkan untuk menggunakan toilet. Ketika dia tahu tentang kasus pembunuhan yang belum terpecahkan bertempat di toilet dekat gedung olahraga, dia terlalu putus asa untuk menemukan toilet lain (mungkin jaraknya jauh atau penuh). Ketika dia menyelesaikan urusannya di toilet keempat yang sama dengan gadis sebelumnya, dia tidak menemukan ada tisu menggantung pada tempatnya. 

“Kamu menginginkan tisu merah atau tisu biru?” Kata Aka Manto, dari balik pintu luar tempat gadis itu bertempat.

Gadis muda tersebut mengingat akan nasib gadis sebelumnya yang menjawab tisu merah, jadi dia menjawab, “tisu biru.”Polisi kemudian menemukan dia mati di toilet saat sore. Wajahnya membiru akibat dicekik sampai mati.

Beberapa tahun terlewati, dan lagi, terdapat gadis ketiga menggunakan toilet gedung olahraga. Dia tahu akan cerita gadis-gadis yang dibunuh, gadis ini membawa tisu untuk digunakannya sendiri. Ketika dia membuka tasnya, dia mendapati bahwa tisu yang dibawanya menghilang. 

“Tisu merah atau tisu biru?” Kata Aka Manto.

Putus asa karena berpikir bahwa dia akan mati seperti gadis-gadis sebelumnya, kemudian dia mengambil pilihan ketiga. “Tisu kuning.” Dia diseret menuju neraka karena pilihannya tersebut. 

Dikatakan bahwa Aka Manto masih menghantui toilet keempat gedung olahraga hingga saat ini. Guru-guru melarang siswanya untuk mendekati toilet tersebut karena takut dengan apa yang di dalamnya. Toilet tersebut masih bisa digunakan, tetapi jika kamu memakainya, bersiaplah untuk menjawab “tisu merah atau tisu biru?”

Kisah Asli Aka Manto



Versi cerita ini pertama kali dibuat pada tahun 1930-an, meskipun versi lainnya sudah ada lebih lama dari versi ini. Lebih dari 70 tahun yang lalu, penampilannya berubah mulai dari mengenakan jaket kimono pendek tak berlengan menjadi jubah atau mantel merah panjang karena terjadi perubahan pada leksikon Jepang selama beberapa tahun terakhir(Aka Manto).

Banyak dari cerita tersebut yang memengaruhi berbagai versi dari Aka Manto. Salah satunya kisah mengenai Kainade, monster yang menempati toilet dunia lain. Kainade bersembunyi di toilet-toilet perumahan tua di Kyoto dan hanya muncul pada tanggal 3 Februari, saat festival Setsubun di Jepang(Kainade). Ketika seorang jongkok di dekat toilet tradisional Jepang, dua tangan keluar dan menyentuhmu. Satu-satunya cara agar berhenti adalah jongkok dan bertanya “kertas putih atau merah?” Lalu, tangan tersebut akan berhenti dan meninggalkanmu sendiri.

Versi lainnya dari Aka Manto, dia seorang penculik dan pembunuh. Diceritakan terdapat seorang lelaki yang bermantel merah mengunjungi sebuah toko kecil saat tengah malam (Si Jubah Merah). Dia menjelaskan bahwa dirinya adalah pembantu dari rumah utama dan majikannya sedang sakit parah. Dia menyakinkan sang ayah untuk membantunya, lalu sang ibu beberapa saat kemudian. Lalu, dia datang untuk yang ketiga kalinya untuk membawa anak-anaknya, tetapi tetangga bersikeras mengatakan bahwa anak-anak sedang tidur, jadi dia tidak bisa membawa mereka. Lelaki bermantel merah tersebut dengan enggan pergi dari situ. Kemudian, pasangan tersebut, sang ayah dan ibu ditemukan mati dan dan lelaki bermantel merah tidak pernah ditemukan lagi. 

Cerita ini berdasarkan pada cerita nyata tentang pembunuhan “aoi ghetto” atau disebut juga pembunuh bermantel biru. Di Fukui, Jepang pada 1906, tiga anggota keluarga dibawa oleh seorang pria yang kepalanya tertutup mantel biru. Diyakini bahwa mereka semua dibunuh dengan brutal. Karena tidak adanya dokumen berbahasa inggris yang rilis, tidak diketahui bagaimana cerita kejahatan ini selanjutnya.